Posted by: Safri Saipulloh | November 12, 2010

makalah untukmu

Tugas dan Fungsi Perpustakaan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah

 

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah menunjuki penulis dalam menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya tentu penulis tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan dalam kehidupan.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh perpustakaan sekolah terhadap mutu pendidikan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang “Tugas dan Fungsi Perpustakaan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

 

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

B.     IDENTIFIKASI MASALAH

C.     PEMBATASAN MASALAH

D.    PERUMUSAN MASALAH

BAB II PEMBAHASAN

A.    TUJUAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

B.     TUGAS DAN FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

C.     KONTRIBUSI PERPUSTAKAAN TERHADAP PENDIDIKAN DI SEKOLAH

BAB III PENUTUP

A.    SIMPULAN

B.      SARAN


BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH

Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif.

Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk mencapai bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat terbentuk jika memiliki kemampuan dan keterampilan mendengar dan minat baca yang besar. Apabila membaca sudah merupakan kebiasaan dan membudaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

Dalam dunia pendidikan, buku terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana pendidikan dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan bagian yang vital dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan.

Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.
B. IDENTIFIKASI MASALAH (LATAR BELAKANG)

Sesuai dengan judul makalah ini “Tugas dan Fungsi Perpustakaan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah”, terkait dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah dan fungsi serta sumbangan perpustakaan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Berkaitan dengan judul tersebut, maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1.      Bagaimana fungsi dan peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah

2.      Bagaimana cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
C. PEMBATASAN MASALAH.

Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah :

a.       Fungsi dan peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah;

b.      Cara-cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

 

D.    RUMUSAN MASALAH.

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.      Bagaimana deskripsi tugas dan fungsi perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah?

2.      Bagaimana deskripsi cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah?

BAB II

PEMBAHASAN
Perpustakaan merupakan bagian intergral dari lembaga pendidikan sebagai tempat kumpulan bahan pustaka, baik berupa buku maupun bukan buku. Sesuai dengan judul makalah ini, pembahasan meliputi tujuan perpustakaan, fungsi perpustakaan dan sumbangan perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan.
A. TUJUAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH.

Tujuan utama penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan mutu pendidikan bersama-sama dengan unsur-unsur sekolah lainnya. Sedangkan tujuan lainnya adalah menunjang, mendukung, dan melengkapi semua kegiatan baik kurikuler, ko-kurikuler dan ekstra kurikuler, di samping dimaksudkan pula dapat membantu menumbuhkan minat dan mengembangkan bakat murid serta memantapkan strategi belajar mengajar.
Namun secara operasional tujuan perpustakaan sekolah bila dikaitkan dengan pelaksanaan program di sekolah, diantaranya adalah:

1.      Memupuk rasa cinta, kesadaran, dan kebiasaan membaca.

2.      Membimbing dan mengarahkan teknik memahami isi bacaan.

3.      Memperluas pengetahuan para siswa.

4.      Membantu mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu.

5.      Membimbing para siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.

6.      Memberikan dasar-dasar ke arah studi mandiri.

7.      Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar bagaimana cara menggunakan perpustakaan dengan baik, efektif dan efisien, terutama dalam menggunakan bahan-bahan referensi.

8.      Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksaanan program kurikulum di sekolah baik yang bersifat kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler.

 

B. TUGAS DAN FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Tugas dan fungsi perpustakaan sekolah tidak boleh menyimpang dari tugas dan fungsi sekolah di mana perpustakaan bernaung. Cepatnya perkembangan ilmu pemgetahuan di segala bidang dewasa ini membuat manusia sadar bahwa tugas sekolah tidak cukup melatih ingatan dan kemahiran dalam beberapa mata pelajaran saja. Isi pelajaran tidak dapat lagi dibatasi kepada si buku pelajaran dan metoda mengajar tidak cukup berdasarkan hafalan dan ingatan. Pendidikan bukan hanya menyampaikan pengetahuan dari guru dan buku pelajaran kepada anak didik, tetapi juga memberi kesempatan kepada anak didik untuk ikut aktif dalam usaha memperkaya pengetahuannya dengan usaha sendiri.

Pendidikan di zaman sekarang menginginkan agar mata pelajaran sebanyak mungkin di integrasikan. Batas-batas antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain makin kabur, dan terkadang hilang. Kurikulum tidak lagi dianggap sebagai seri mata-mata pelajaran yang mempunyai batas isi antara yang satu dengan yang lain. Isi pelajaran haruslah lebih mendekati pengalaman-pengalaman hidup yang sebenarnya agar tiap-tiap anak lebih mampu lagi mempersipakan diri untuk hari kemudian. Pelajaran harus mengikuti arah perkembangan anak didik dan dikendalikan oleh daya intelektualnya.  Pelajaran dalam pendidikan modern lebih banyak memperhatikan bakat-bakat individual anak-anak. Tetapi ada beberapa bidang pengetahuan dan kemahiran yang dianggap wajib dikuasai oleh tiap-tiap anak dan sekolah-sekolah harus mengajarkan mata-mata pelajaran inti ini kepada tiap anak. Setelah para pelajar makin tinggi kelasnya masing-masing sebaiknya sudah mampu memupuk bakat-bakat tertentu yang mereka miliki dan memperluas pengetahuan di bidang yang sesuai dengan bakat masing-masing. Kurikulum yang hidup dinamis, serta proses belajar yang berdasarkan integrasi dan koordinasi ini memerlukan sumber-sumber pengetahuan yang luas dan beraneka : buku pelajaran, buku perpustakaan, berkala, famflet, gambar, peta, guntingan surat kabar (clippings) dan bahan-bahan audio visual. Perpustakaan sekolah diadakan bukan hanya sekedar melayani selera para pelajar untuk membaca buku-buku penglipur lara. Perpustakaan itu harus dapat membantu para pelajar mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, melahirkan kecekatan. Perpustakaan itu harus dapat membantu anak-anak dalam aktivitas-aktivitas yang kurikuler dan extra-kurikuler. Dengan kata lain perpustakaan sekolah merupakan satu kesatuan integral (terpadu) dengan alat-alat pendidikan yang lain.  Secara garis besar tugas dan fungsi perpustakaan adalah sebagai berikut :

1.      Sebagai pusat belajar mengajar. Perpustakaan sekolah berfungsi membantu program pendidikan pada umumnya, serta sesuai dengan tujuan kurikulum masing-masing. Mengembangkan kemampuan anak menggunakan sumber informasi. Bagi guru, perpustakaan sekolah merupakan tempat untuk membantu guru mengajar, juga tempat bagi guru untuk memperkaya pengetahuan.

2.      Membantu anak didik memperjelas dan memperluas pengetahuannya tentang suatu pelajaran di kelas dan mengadakan penelitian di perpustakaan

3.      Mengembangkan minat, kemampuan, dan kebiasaan membaca yang menuju kebiasaan mandiri

4.      Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya

5.      Membiasakan anak untuk mencari informasi di perpustakaan,  Kemudian anak mencari informasi dalam perpustakaan akan menolongnya kelak dalam pelajaran selanjutnya

6.      Perpustakaan sekolah merupakan tempat memperoleh bahan rekreasi sehat, melalui buku-buku bacaan fiksi

7.      Perpustakaan sekolah memperluas kesempatan belajar bagi murid-murid  Koleksi yang lengkap serta variasi yang cukup, memperluas kesempatan pada pemakainya untuk menambah cakrawala pengetahuannya.

Sebuah perpustakaan yang baik, dapat memberikan latihan kepada pelajar cara-cara mencari dan menemukan informasi dalam perpustakaan yang walau bagaimana besarnya, mereka akan mendapat keterampilan menemukan, menjaring, dan menilai informasi, kemampuan merekamenarik kesimpulan yang tepat akan terbina. Keterampilan-keterampilan ini sangat berguna bagai anak didik di hari kemudian.  Kebiasaan belajar sindiri memakai buku, majalah dan pustaka lainnya akan membawa manfaat besar dalam hidupnya. Dunia yang cepat maju menginginkan agar orang jangan berhenti belajar setelah meninggalkan bangku sekolah. Penemuan-penemuan baru tiap tahun menambah pengetahuan manusia dan ikut merubah hidupnya dan kita mau tidak mau harus berusaha agar dapat, bukan saja mengikuti perubahan-perubahan itu, tetapi juga ikut sumbangan terhadap kemajuan manusia.
C. KONTRIBUSI PERPUSTAKAAN TERHADAP PENDIDIKAN DI SEKOLAH.
Bila diperhatikan secara jenih, maka perpustakan sekolah sesungguhnya memberikan sumbangan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Sumbangan / fungsi perpustakaan antara lain :

1.      Perpustakaan merupakan sumber ilmu pengetahuan dan pusat kegiatan belajar.

2.      Perpustakaan merupakan sumber ide-ide baru yang dapat mendorong kemauan para siswa untuk dapat berpikir secara rasional dan kritis serta memberikan petunjuk untuk mencipta.

3.      Perpustakaan akan memberikan jawaban yang cukup memuaskan bagi para siswa, sebagai tuntutan rasa keingintahuan terhadap sesuatu, benar-benar telah terbangun.

4.      Kumpulan bahan pustaka (koleksi) di perpustakaan memberika kesempatan membaca bagi para siswa yang mempunyai waktu dan kemampuan yang beraneka ragam

5.      Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mempelajari cara mempergunakan perpustakaan yang efisien dan efektif.

6.      Perpustakaan akan membantu para siswa dalam meningkatkan dalam kemampuan membaca dan memperluas perbendaharaan bahasa.

7.      Perpustakaan dapat menimbulkan cinta membaca, sehingga dapat mengarahkan selera dan apresiasi siswa dalam pemilihan bacaan.

8.      Perpustakaan memberikan kepuasan akan pengetahuan di luar kelas.

9.      Perpustakaan merupakan pusat rekreasi yang dapat memberikan hiburan yang sehat.

10.  Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa dan guru untuk mengadakan penelitian.

11.  Perpustakaan merupakan batu loncatan bagi para siswa untuk melanjutkan kebiasaan hidup membaca di sekolah yang lebih tinggi.

12.  Kegairahan / minat baca siswa yang telah dikembangkan melalui perpustakaan sangat berpengaruh positif terhadap prestasi belajarnya.

13.  Bila minat membaca sudah tumbuh dan berkembang pada diri siswa, maka perpustakaan juga dapat mengurangi jajan anak, yang ini biasanya dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan anak.

14.  Bahkan perpustakaan juga bagi anak-anak dapat menjauhkan diri dari tindakan kenakalan, yang bisa menimbulkan suasana kurang sehat dalam hubungan berteman diantara mereka.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian bahasan “Tugas dan Fungsi Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah” dapat disimpulkan bahwa:

1. Tugas dan fungsi perpustakaan sangat menunjang prestasi pendidikan di sekolah.

2. Perpustakaan sangat penting dan harus ada pada setiap sekolah di semua jenjang pendidikan.

3. Pengelolaan perpustakaan harus dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan fungsinya

 

B.  SARAN

Bertolak dari fungsi perpustakaan yang begitu banyak sumbangsihnya dalam pelaksanaan program pendidikan di sekolah, penyusun memberikan saran sebagai berikut:

1.      Sebaiknya perpustakaan dikelola sesuai dengan tujuan dan fungsinya.

2.      Peran pengelola perpustakaan / pustakawan yang profesional hendaknya mendapatkan bekal yang cukup sehingga menjadi pustakawan yang handal dan profesional.

Posted by: Safri Saipulloh | March 2, 2009

Ketika mereka tersinggung….

Di Bis Primajasa, sore telah berlalu dan malam menjelang, aku bersama seorang teman sedang sedang dalam perjalanan menuju Cilegon dalam sebuah misi “mencari pekerjaan yang layak”. Perjalanan menuju Cilegon dari Jakarta adalah perjalanan yang cukup panjang memakan waktu tiga sampai lima jam, tergantung kepadatan jalanan. Waktu itu, kami sedang asyik berbincang tentang “betapa indahnya masa depan kalau kita kerja di tempat yang sama”, ketika seorang pengamen masuk ke dalam bis. Tanpa berniat mengacuhkan apalagi merendahkan, asyiknya mengobrol membuat aku dan temanku kurang memperhatikan “pertunjukan” seorang pengamen di dalam bis. Waktu itu, dia menyanyikan salah satu lagu Kerispatih yang sedang hits. Saat itu aku tidak merasa telah membuat kesalahan.

Tiba saat sang pengamen mengedarkan plastik bekas bungkus permen untuk memungut sumbangan dari para penumpang. Dia sedang memungut hasil jerih payahnya. Sampai di tempat dimana aku dan temanku duduk, Sang Pengamen menyodorkan plastik itu dan karena alasana yang aku lupa, kami tidak “mencelupkan” sesuatupun ke dalamnya. Dengan rasa kecewa yang tertahan, Sang Pengamen menggerutu dan pergi. Aku menatap temanku mengharap jawaban perilaku aneh dan tidak menyenangkan itu. Mungkin karena kita tidak mendengarkan dan tidak memberikan apa-apa, demikian kata temanku. Baiklah, satu pelajaran penting telah kupetik.

Waktu berlalu dan tak ada kabar tentang “pekerjaan yang layak” itu. Tidak padaku, tidak juga pada temanku. Bersabarlah, nasib sedang tidak baik.

Tiga hari yang lalu, dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, di Bis Metromini, aku sedang berharap bisa cepat sampai di rumah. Besok adalah akhir pekan dan aku butuh istirahat. Ketika itu, dua orang berbaju hitam menaiki bis dari pintu belakang. Awalnya mereka duduk saja hingga sekitar 20 menitan. Setelah itu, mereka berdiri dan memulai atraksi mengamen sambil mengintimidasi. Mereka adalah preman jalanan dalam “bungkusan” pengamen. Atau pengamen dalam “bungkusan” preman jalanan. Intinya mereka mengamen dan mengancam dalam saat yang bersamaan.

Dimulai dengan kata-kata bijak yang sangat menghakimi seperti “jangan takut miskin, duit seribu dua ribu tak akan membuat anda miskin”, “hidup ini harus berbagi”, “jangan sombong karena kekayaan anda” dan kalimat-kalimat semacamnya yang penuh dengan teror dan penuduhan. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. “Lagu-lagu sosial” dalam istilah mereka pun mulai dikumandangkan. “Lagu sosial” itu adalah gabungan antara bentakan dan hinaan diselingi nada-nada ejekan. Mereka benar-benar membuatku dan mungkin seisi bis tersinggung dengan tingkah mereka.

Saat-saat seperti ini aku berharap menjadi seorang superhero sekelas Batman atau Spiderman dan langsung memberi mereka pelajaran. Sayang, aku bukan superhero.

Dua bangku di depanku, duduk seorang wanita berbaju biru dan syal coklat. Tak dapat kulihat wajahnya. Wanita itu sedang mendapatkan celotehan dari pengamen itu. Firasatku buruk. Mungkin si wanita telah mengucapkan atau berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan si pengamen. Benar saja, pengamen itu terus saja mengucapkan kata-kata kasar dan tak senonoh sambil melewati wanita itu. Selesai memungut sumbangan penumpang, mereka duduk di bangku paling belakang, tepat di belakangku. Dan kata-kata makian itu terus berlanjut. Sumpah serapah tak terbendung. Terkadang pelan, terkadang sengaja diucapkan dengan keras. Sungguh tindakan terorisme. Kasihan wanita itu.

Seisi bis hanya diam, tidak mau cari masalah dan menambah keruh suasana. Begitupun sopir dan kernet yang jelas-jelas mendengar segala kutukan para preman itu. Akupun tak berkutik. I’m not a superhero. Aku sedih tak bisa membantu, hanya berdoa agar si wanita menebalkan telinga dan tak mengambil hati ucapan-ucapan tak beradab itu.

Para pengamen itu tak jua turun. Enaknya mereka, naik bis tak bayar duduk pula plus hak khusus untuk berkhotbah dan memaki-maki. Sambil pulang kandang, sambil cari uang. Mereka tetap di bis, sampai terminal. Dan sepanjang itu si wanita dan seisi bis mendapat “siraman rohani”. Saat semua orang mulai turun, para pengamen itu mulai mengincar si wanita. Keluar dari pintu berbeda, wanita itu keluar dari pintu depan dan pengamen dari pintu belakang, para pengamen mulai cari mangsa. Tak tahu apa bakal terjadi.

Aku yang dalam perjalanan pulang dalam sebuah misi “pulang cepat dan tidur nyenyak” tak kuasa mengikuti kelanjutan ceritanya. Lagian juga disini banyak orang, kataku dalam hati. Semoga kau selamat wanita berbaju biru dengan syal coklat. Doaku bersamamu….

Sepertinya, pelajaran yang kupetik di awal cerita ini, juga telah dipetik oleh wanita itu.

“Para pengamen seringkali dengan sengaja menyinggung perasaan penumpang bis dan angkutan lainnya, tapi jangan pernah berharap sebaliknya. Itu artinya cari masalah”

Posted by: Safri Saipulloh | February 9, 2009

500 di 63

Perkara duit memang sering membuat orang hilang akal. Cerita ini bisa menjadi gambaran betapa duit 500 perak dapat memicu perkelahian.

Pukulan dilayangkan oleh bapak separuh baya ke pipi kernet Kopaja 63 pada selasa pagi ketika jarum jam lebih 3 menit dari pukul 7 WIB. Pukulan tersebut merupakan kelanjutan setelah sebelumnya si bapak mencubit- lebih tepatnya menjewer karena mencubit terkesan manja dan penuh kasih sayang- muka kasar kernet berbaju hijau itu. Baju hijau yang merupakan seragam Kopaja tersebut baru hari ini kulihat dipakai sang kernet bertubuh mungil. Aku memang sudah hapal muka kernet ini karena setiap hari aku menggunakan jasa angkutan ini dari kost menuju tempat kerjaku, meskipun tidak setiap hari berangkat dengan bis yang sama.

Sekilas muka kernet ini mirip dengan salah satu pemain sepak bola asal klub Valencia, David Silva. Perawakannya yang kurus dan mungil juga semakin membuatnya mirip dengan pemain sayap Spanyol tersebut. Di sisi lain, si Bapak yang melakukan pemukulan terlihat seperti orang baik2 dengan tinggi yang hampir sama dengan sang kernet. Kepalanya bulat dan kecil dilengkapi kumis tipis yang sudah sedikit beruban.

Pemukulan itu merupakan buntut dari kekurangan ongkos si Bapak setengah tua. Tarif yang seharusnya sebesar Rp.2500 hanya dibayar dengan dua lembar uang seribuan oleh si Bapak. Tak terima ongkos kurang, si Kernet setengah berteriak menyuruh turun si Bapak. Merasa tidak dihormati, si Bapak yang mengaku sudah malang melintang di Kopaja dan Metromini terpancing emosinya. Diawali dengan diskusi singkat, yang lebih mirip seperti pertengkaran kecil, si Bapak yang sudah naik pitam mengawali kontak fisik dengan menjewer. Tak puas sampai di situ, si Bapak yang berdiri di pintu belakang mendorong si Kernet sampai hampir jatuh dari bis. Dengan enteng si Bapak menyumpahi biar jatuh sekalian.

Para penumpang yang mulai terusik dengan pertengkaran tersebut, mulai mengeluarkan suara-suara gaduh. Sang sopir pun akhirnya angkat bicara dengan memanggil kernetnya. Sang Kernet yang merasa sudah dilecehkan si Bapak setengah tua, menghampiri sopir dan mengadukan kejadian yang menimpanya. Tak terima kernetnya dilecehkan, sopir berbadan tinggi besar turun dari kemudi dan menuju pintu belakang. Bis pun berhenti di tengah kemacetan lalu lintas ibukota.

Si Bapak setengah tua terlihat tidak gentar meskipun sopir telah menghampiri. Pertarungan akan berjalan tidak seimbang. Satu lawan satu saja, belum tentu si Bapak bisa membereskan apalagi harus berhadapan dengan dua orang sekaligus. Si sopir yang datang dengan emosi tertahan bertanya,

Sopir: “Ada apa sih Pak?”
Bapak: “Saya kurang gopek, tapi saya udah minta maaf. Emang berapa sekarang ongkos, saya juga udah lama di Kopaja. Dia (sambil menunjuk ke kernet) baru juga, udah begitu.”

Si Bapak menceritakan duduk perkara dengan bibir bergetar akibat menahan amarahnya. Si Kernet yang dengan kedatangan bosnya merasa mendapat dukungan, bersuara dengan sangat keras.
Kernet: “Dengerin gue dulu”

Sambil menampar body bis sang Kernet menumpahkan kemurkaannya. Masih dengan emosi yang meluap dia melanjutkan.

Kernet: “Gue ngormatin lo karna lo orang tua, tapi jangan pake nonjok dong”.

Si kernet pun langsung menyerobot si Bapak dengan pukulan beruntun ke arah wajah. Meski tak ada yang mengenai secara telak karena langsung dihalangi oleh Sopir, si Bapak mulai tertekan. Aku yang sedari tadi terjepit di tengah kerumunan orang yang berdiri karena bis yang penuh, tak ingin melihat kejadian ini semakin panjang. Akupun keluar dan mulai ambil bagian dalam pertikaian ini.

Si Bapak yang belum selesai dengan kemarahannya, masih berteriak-teriak menantang si Kernet. Meski telah didamaikan oleh sopir si Kernet semakin terpancing. Akupun membawa Kernet menjauhi si Bapak dan berusaha menenangkannya. Di lain pihak si Bapak berusaha ditenangkan Sopir. Duit ongkos sebesar dua ribu rupiah pun telah dikembalikan kepada si Bapak dan sopir menyuruh si Bapak untuk naik bis yang lain saja.

Keadaan sedikit tenang. Sopir pun kembali ke belakang kemudi, siap berangkat. Tapi lagi-lagi, si Bapak memprovokasi si Kernet, sepertinya si Bapak masih belum selesai dengan amarahnya. Melihat kondisi ini, aku kembali mendekat ke si Bapak dan menenangkannya. Malu pak, banyak orang. Kira-kira itulah pesan yang kusampaikan kepada si Bapak yang sepertinya sudah harus merelakan nasib ditinggalkan bis. Dan kamipun berangkat kembali.

Sayonara Bapak setengah tua….

Untuk urusan-urusan seperti beli-membeli, jatuh, hilang dan sebagainya, uang 500 perak sering kali kita ikhlaskan. Tapi ketika uang dengan jumlah sama harus kita berikan kepada kernet, perasaan begitu berat dan rela “bertarung” demi itu. Hal yang sama pun dilakukan kernet terhadap kita. Ironis sekali..

Apapun itu, 500 di 63 telah memberikan kenangan perjuangan demi sekeping uang receh yang sering diabaikan.

Posted by: Safri Saipulloh | February 2, 2009

Potret Khutbah Jum’at

Sewaktu saya kecil dulu, tepatnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, hari jum’at adalah hari yang paling saya suka selain hari libur. Alasannya, selain pada hari tersebut waktu pulang sekolah lebih cepat sehingga saya bisa sampai di rumah lebih awal, juga dikarenakan adanya kegiatan shalat jum’at. Shalat jum’at bagi saya waktu itu adalah shalat yang istimewa karena hanya dilaksanakan sekali dalam sepekan, selain itu dalam shalat jum’at ada ritual yang membedakannya dengan shalat biasa, yaitu khutbah jum’at. Meskipun saat itu saya belum begitu mengerti dan belum terlalu paham apa yang disampaikan khatib melalui khutbahnya tapi saya sangat menikmati setiap khutbah jum’at yang saya ikuti. Buktinya, saya bisa menghafal dengan baik sebagian besar kalimat-kalimat penutup khutbah kedua yang biasa dibacakan oleh khatib, meskipun kalimat tersebut dalam bahasa arab yang saya tidak mengerti.
Begitulah yang saya rasakan pada saat kecil, di desa yang jauh dari gemerlap perkotaan, dimana masyarakat masih patuh dan taat akan norma agama setidaknya menurut kaca mata masa kecil saya yang masih polos. Saat ini, tepatnya setelah sepuluh tahun berlalu, kegiatan shalat jum’at yang merupakan kegiatan yang saya tunggu dan nantikan, tidak lagi semenarik dulu. Khutbah jum’at hampir di semua tempat yang saya ikuti, jarang yang menarik malah tidak sedikit yang membosankan.
Kebanyakan jama’ah shalat jum’at yang hadir menggunakan waktu khutbah ini untuk tidur dan beristirahat, sehingga sangat sedikit yang mengikuti khutbah dengan baik. Dengan demikian, orang yang mendapat hikmah dari shalat jum’at ini akan semakin sedikit pula. Padahal, shalat jum’at adalah momentum yang sangat baik untuk meluruskan kembali keimanan jama’ah yang hadir. Hal ini dikarenakan, selain jumlah jama’ah yang hadir sangat banyak karena anggapan umum bahwa shalat jum’at memiliki tingkat kewajiban yang lebih tinggi dari shalat lain, ajakan menuju takwa kepada Allah SWT juga merupakan rukun yang mesti ada dalam sebuah khutbah.
Kurang menariknya khutbah jum’at yang berujung pada rendahnya antusiasme jama’ah untuk mengikutinya dengan baik, menurut pandangan saya, disebabkan oleh kekurangan pada dua belah pihak yang berinteraksi pada saat khutbah, yaitu khatib dan jama’ah. Kekurangan khatib dalam hal ini, menyangkut kapabilitas dalam berbagai hal yang menyangkut dunia perkhutbahan, sedangkan pemahaman akan pentingnya khutbah jum’at merupakan kekurangan yang dimiliki oleh banyak jama’ah shalat jum’at.
Khatib adalah mereka yang berperan menyampaikan khutbah pada saat shalat jum’at. Sangat memprihatinkan bahkan fatal bagi saya, ketika dalam beberapa khutbah yang saya ikuti, ada khatib yang tidak memenuhi rukun khutbah dalam menyampaikan khutbahnya. Dengan demikian, khutbah yang disampaikan tidaklah sahih karena kekurangan rukun. Hal ini jelas menyangkut kualitas ibadah jum’at dari seluruh jama’ah yang mengikuti shalat jum’at. Dengan demikian, penting rasanya untuk mempertanyakan kapabilitas ataupun kompetensi dari khatib.
Selain itu, tema yang diangkat oleh khatib terkadang kurang relevan dengan kondisi kontekstual jama’ah, sehingga tidak menarik bagi para jama’ah yang hadir. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kemampuan memilih tema khutbah ini akan menyangkut seberapa besar atensi yang akan diberikan oleh jama’ah. Dengan alasan ini, saya kurang sependapat dengan penggunaan buku khutbah yang banyak beredar karena perbedaan tempat dan waktu pelaksanaan khutbah, menyebabkan buku khutbah tersebut kurang sesuai secara kontekstual.
Kemudian, penyampaian khutbah tidak jarang memakan waktu yang lama sehingga membosankan bagi jama’ah. Menurut riwayat, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah dengan singkat bahkan lebih singkat dari waktu shalat jum’at. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita, khususnya para khatib bahwa penyampaian khutbah tidak perlu panjang lebar apalagi bertele-tele karena khutbah pada hakikatya berbeda dengan ceramah. Khutbah seharusnya disampaikan penuh semangat bukan mendayu-dayu yang menambah ngantuk para jama’ah. Dalam salah satu riwayat pula, dikatakan bahwa Rasulullah SAW ketika khutbah seperti orang yang marah, matanya merah, suaranya tegas yang menunjukkan betapa penting isi dari khutbah yang disampaikan.
Terlepas dari masih banyaknya kekurangan pada sebagian khatib yang kita miliki, kita sebagai jama’ah juga tidak tanpa cela. Keberlangsungan khutbah dengan baik yang memungkinkan tersampaikannya isi khutbah juga membutuhkan peran jama’ah. Pemahaman jama’ah yang kurang akan urgensi khutbah berakibat pada rendahnya antusiasme mengikuti khutbah dengan baik. Banyak diantara jama’ah yang menganggap khutbah hanya pelengkap dari shalat jum’at sehingga tidak wajib hadir tepat waktu, tidak wajib mengikuti dengan baik, dan tidak wajib lainnya. Padahal khutbah merupakan satu kesatuan yang utuh dengan shalat jum’at, sehingga tidak bisa dipandang terpisah. Kewajiban mengikuti khutbah sama wajibnya dengan mengikuti shalatnya.
Mengingat pentingnya peranan khutbah dalam kehidupan berislam kita, serta masih banyaknya kekurangan dalam pelaksanaan yang berakibat pada tidak signifikannya pengaruh khutbah di masyarakat kita saat ini, maka perlu rasanya melakukan revitalisasi peran khutbah. Tulisan ini semoga bisa menggugah kita menuju revitalisasi tersebut demi Islam yang lebih baik di masa datang. Amin.

Posted by: Safri Saipulloh | January 28, 2009

Ketika Negara Tak Berdaya…

Tadi malam gw liat Telusur di TV One. Topik yang diangkat menyangkut misteri meledaknya tangki 24 di Depo Plumpang. Dengan berharap mendapat info penting alasan ledakan tersebut, gw pantengin tuh acara. Eh, ternyata apa yang gw harapkan ga muncul2. Kronologis kejadiaanya pun sampai sekarang belum diketahui secara pasti dan meyakinkan.

Seperti biasanya, pemerintah hanya mengeluarkan alasan “kesalahan teknis” untuk kejadian tersebut. Menyedihkan. Tidak ada peluang unutk berdiskusi lebih lanjut. Ketika diinvestigasi sama pihak lain (seperti TV One misalnya), pihak Pertamina berkelit. Sebaliknya, dengan bangga mengatakan sistem kebakaran yang sudah baik karena ledakan tidak merambat ke tangki lain. Kok malah bangga ya?

Dari awal kasus ini sebenarnya sudah kental dengan rahasia dan misteri. Di satu sisi, Pertamina tidak mau terbuka untuk menjaga reputasi yang kian tipis, di sisi lain pemerintah juga seperti tidak mau kasus ini menjadi panjang. Walhasil, pernyataan resmi dari Pertamina, kepolisian dan pemerintah masih jauh dari harapan dan rasa ingin tahu publik.

Banyak spekulasi yang muncul terkait ledakan ini, mulai dari isu akan dipecatnya Dirut Pertamina sampai sabotase karena iklan penurunan BBM Demokrat yang dinilai membodohi publik. Tapi, sekali lagi, sampai saat ini tak ada pernyataan resmi menyangkut ledakan itu selain “kesalahan teknis”.
Akhirnya harus banyak mengelus dada..
Negara kalah melawan mafia

Tadi pagi, liat di Warta Kota, katanya juragan angkutan umum di Jakarta tidak mau nurunin tarif. Padahal Pak Gubernur udah mengeluarkan peraturan penurunan tarif sebesar 500 perak. Apa pasal? Lagi2 seperti tak bisa diatur, pengusaha angkutan lebih “perkasa” dari pemerintah.
Lagi2, akhirnya harus mengelus dada..

Sebulan terakhir isu tentang Exxon yang akan dipidanakan Pak Menteri ESDM karena tidak menyerahkan data teknis dan bla bla juga masih mengusik pikiran gw. Exxon ditengarai tidak mau menyerahkan data2 yang secara de jure merupakan hak pemerintah RI. Apa sebab? Pemerintah tak kuasa melawan kenyataan bahwa modal dan aset lebih kuat dari teriakan2 pemerintah..
Lagi2, akhirnya harus mengelus dada.

Lama2 negara ini khususnya Jakarta seperti Gotham City di Film Batman saja. Ngeri…..

Posted by: Safri Saipulloh | January 28, 2009

Dangdut Never Die

Salam Dangdut…

Ini hanya breaking news saja.

Tadi malam, 26 Jan 09, TPI telah mencatat sebuah momentum maha penting dalam sejarah musik dangdut Indonesia, yaitu Terjadinya Revolusi II. Sebagai Info, Revolusi I adalah perjuangan Bang Rhoma untuk menyejajarkan musik dangdut dengan musik Rock yang melanda dunia pada era 70an. Mesin penggerak Revolusi I adalah Soneta group yang hingga saat ini masih eksis. Sedangkan revolusi II adalah dibentuknya Sonet 2 (baca sonettu) sebagai regenerasi dan bisa jadi reinkarnasi Soneta Group.

Bertajuk “Dangdut Never Die”, acara monumental tersebut diprakarsai oleh Bang Rhoma yang sudah miris melihat perkembangan musik dangdut saat ini. Oleh karenanya dirasa perlu untuk mengembalikan dangdut ke track yang sebenarnya. Sebagai tokoh revolusi I, Bang Rhoma yang sudah menciptakan lebih daru 800 lagu dan membintangi 10 film tersebut merasa terpanggil untuk memperbaiki “anak pertamanya” tersebut.

Seperti kata pepatah, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, revolusi II ini akan diemban oleh Sonettu Band dengan vokalis Ridho Rhoma, yang tidak lain adalah anak kandung Bang Rhoma. Layaknya panggung politik yang kental dengan monarki (anak menggantikan posisi bapaknya), dangdut pun sepertinya sudah mengarah ke sana. Digawangi oleh anak2 dari musisi2 era 70an, Sonettu digadang2 sebagai pelurus jalan dangdut sehingga tidak hanya “jualan anggota tubuh” saja. Namun sebaliknya, lebih mengutamakan moral dan kualitas.

Semoga saja…

Posted by: Safri Saipulloh | January 28, 2009

Benang Kusut Dunia Pendidikan

Salah satu tujuan negara yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Para founding father bangsa ini telah memahami betul urgensi dari pendidikan terhadap kemajuan suatu bangsa, oleh karena itu pencerdasan kehidupan bangsa merupakan suatu keniscayaan.

Ironisnya, sektor pendidikan yang merupakan sarana untuk mencerdaskan bangsa, mengalami keterpurukan yang sangat dalam. Sektor pendidikan ini terperosok ke dalam lembah ketertinggalan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Bahkan untuk bersaing secara regional saja dengan negara Asia Tenggara lainnya, mutu pendidikan Indonesia sudah tidak pantas dibanggakan.

Masalah dunia pendidikan di negeri ini telah menjadi masalah pelik yang seolah tidak pernah berakhir. Berbagai masalah yang menggerogoti sektor vital ini terus menerus bertambah. Mulai dari sarana sekolah, masalah siswa, guru, manajemen sekolah yang buruk, dan penanganan pemerintah yang setengah-setengah.

Ditinjau dari bangunan sekolah yang ada, semakin hari semakin banyak yang rusak. Pada berbagai berita di media massa saban hari kita melihat semakin banyaknya gedung sekolah yang tidak layak pakai. Kerusakan ini ada yang diakibatkan oleh bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa dan lainnya. Selain itu, ada juga yang rusak karena termakan usia. Malangnya, kerusakan yang sering terjadi pada gedung sekolah tidak diimbangi dengan investasi di bidang tersebut oleh pemerintah, baik dengan memperbaiki gedung yang rusak maupun pembangunan gedung sekolah yang baru. Hal ini mengakibatkan jumlah gedung sekolah yang layak pakai dari hari ke hari semakin sedikit. Lantas kalau tidak ada ruangan atau gedung sekolah yang memadai, bagaimana siswa akan belajar dengan fokus?

Pembahasan mengenai gedung sekolah saja sudah membuat kita miris akan masa depan pendidikan bangsa ini, padahal sarana pendidikan tentu saja bukan hanya gedung. Sarana pendidikan yang lain yang sebenarnya tidak kalah pentingnya seperti buku, alat peraga, dan laboratorium seolah menjadi barang mahal bagi sebagian besar sekolah yang kita miliki. Pemenuhan sarana-sarana di atas masih terbatas di kota-kota besar atau di sekolah-sekolah yang mahal, sementara sebagian besar siswa Indonesia tinggal di daerah yang berarti tidak menikmati saran tersebut secara optimal.

Sebenarnya masalah sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar dalam dunia pendidikan formal ini dapat dituntaskan dengan baik apabila manajemen sekolah mengoptimalkan fungsi manajerialnya di sekolah. Sayangnya, sebagian besar manejemen sekolah yang ada kinerjanya masih jauh dari harapan. Hal ini diperparah pula dengan campur tangan pemerintah yang terkesan setengah-setengah dalam dunia pendidikan kita. Banyak kebijakan pemerintah yang menyangkut pendidikan yang justru menambah kisruhnya masalah yang ada. Meskipun telah ada usaha dari pemerintah dalam menangani berbagai persoalan yang melanda dunia pendidikan, akan tetapi usaha tersebut seperti dilakukan setengah hati.

Dunia pendidikan kita menjadi lahan empuk untuk dikomersialisasi pemerintah. Sehingga esensi dari pendidikan yaitu untuk mencerdaskan luput di tengah euforia kejar mengejar proyek. Cara pemerintah kita mengelola pendidikan tidak jauh berbeda dengan seorang supir metromini. Yaitu dengan memuat penumpang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat, memacu bis secepat mungkin untuk bisa sampai secepatnya di tujuan, begitu seterusnya. Demikian pula dengan pemerintah (dalam hal ini Depdiknas), sebanyak mungkin mengelola proyek, menyelesaikan secepat mungkin untuk kemudian mengejar proyek baru.

Masalah lain adalah masalah guru. Permasalahan guru ini juga tidak kalah menarik dengan permasalahan sebelumnya. Dimulai dari jumlah guru yang tidak memadai, gaji yang tidak pernah beres, sampai pada pengangkatan guru honorer menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Berbagai masalah yang dihadapi oleh mereka yang berprofesi amat mulia ini tidak jarang mengacaukan tujuan mulia yang mereka emban. Persoalan-persoalan yang hampir setiap hari muncul tersebut, misalnya saja gaji rendah sehingga tidak mencukupi standar hidup mereka, memaksa mereka untuk mengais rejeki dengan cara yang lain.

Hal tersebut tidak jarang membuat para pengajar tersebut berfikir pragmatis, yaitu sekedar memberikan tugas kepada siswa tanpa memperhatikan pemahaman siswa akan pelajaran yang sedang berlangsung. Pragmatisme seperti ini berujung pada bergesernya standar penilaian terhadap siswa yaitu tingkat kemampuan mengerjakan soal.

Selain itu pula, ditinjau dari sudut pandang siswa, dunia sekolah menjadi penjara menakutkan. Tidak ada lagi mutiara-mutiara pendidikan yang menarik minat para siswa, yang ada adalah tugas yang banyak sehingga tidak cukup waktu mengerjakannya. Sekolah menjadi tempat yang menjemukan sehingga para siswa mencari tempat lain yang menjadi pelampiasan banyaknya tugas yang diberikan para guru mereka di sekolah. Tempat-tempat seperti pusat perbalanjaan, pusat permainan dan lainnya menjadi tempat yang mereka sukai ketimbang sekolah yang penuh dengan tekanan.

Rasa kasihan sepatutunya diberikan pada generasi muda bangsa ini, yang kehilangan nikmatnya belajar karena beban moral berupa tugas dan pe-er yang banyaknya sampai membuat orang tua mereka pusing. Pergeseran paradigma pendidikan ini berakibat pada menurunnya citra mulia sekolah yang pada akhirnya membunuh kreativitas dan rasa ingin tahu peserta didik.

Tanggung jawab ini pertama kali harus dikembalikan kepada pemerintah sebagai penyelanggara negara yang bertugas mewujudkan tujuan negara ini sebagaimana diungkapkan di awal tulisan ini. Jangan lagi menganggap dunia pendidikan sebagai sapi perah untuk dijadikan mesin ekonomi, akan tetapi esensi dari pencerdasan dan pendidikan tersebut mestilah diutamakan. Selain itu, pihak manajeman sekolah juga jangan memanfaatkan keadaan untuk mengeruk keuntungan dari dunia pendidikan yang bertujuan mulia tersebut.

Dengan sinergi postitif dari ke dua aspek tersebut, maka permasalahan sarana prasarana, guru, dan siswa tentunya lebih mudah diselesaikan. Sehingga terbentuklah iklim dunia pendidikan yang bersahabat bagi siswa, sekolah yang menarik minat dan rasa ingin tahu dengan mutiara-mutiara ilmu yang ditawarkannya, dan suasana pendidikan yang menyenangkan dengan peran serta pendidik yang berjiwa mulia. Dengan demikian, dunia pendidikan Indonesia bisa menatap dunia dengan kepala tegak dan dan dapat dibanggakan di tengah-tengah pendidikan negara lain di dunia.

Semoga!

Posted by: Safri Saipulloh | January 28, 2009

Mengejar Soeharto

Tulisan ini dibuat pada saat Soeharto sakit parah

Dikutip dari setiakarya.files.wordpress.com

Foto dikutip dari setiakarya.files.wordpress.com

Akhir-akhir ini, pembicaraan mengenai mantan Presiden Soeharto kembali hangat. Hal ini tidak terlepas dari kondisi kesehatan mantan penguasa orde baru tersebut. Semenjak dilaporkan bahwa kondisi Pak Harto semakin kritis beberapa hari yang lalu, publik seolah kembali dibangunkan dari tidur untuk mengusut kembali kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan penguasa terlama di Indonesia tersebut. Berbagai tuntutan yang dialamatkan kepada Pak Harto yang seperti telah dilupakan baik sengaja maupun tidak, kembali dibuka. Hal itu berarti dosa-dosa dan catatan kelam masa lalu Pak Harto kembali diungkap.

Ironis memang, di saat mantan orang nomor satu itu tergolek lemah di rumah sakit, di saat itu pula banyak orang mengejar beliau. Banyak wacana telah bergulir tentang bagaimana seharusnya menyudahi perkara panjang tersebut. Terjadi pro dan kontra yang cukup sengit antara pihak yang memberatkan Pak Harto dan pihak yang membelanya. Terjadinya pro dan kontra pengusutan kasus kejahatan mantan penguasa terlama itu memang sangat wajar terjadi.

Mereka yang membela dan bersimpati kepada Pak Harto merujuk pada alasan kontribusi beliau yang memang sangat besar teradap kemajuan bangsa. Sehingga wajar rasanya, dipenghujung hidupnya, Pak Harto beserta keluarganya diberikan kedamaian dan kenyamanan dalam menghadapi masa-masa sakit. Banyak upaya telah mereka lakukan untuk memberikan kenyamanan dan kedamaian kepada mantan penguasa tersebut.

Salah satu yang belum lepas dari ingatan kita, barangkali, adalah pengeluaran Surat Penghentian Pengusutan Perkara (SPPP) yang dikeluarkan oleh mantan Jaksa Agung Abdurrahman Saleh dengan alasan bahwa Pak Harto telah mengalami sakit permanen. Pengeluaran surat ini menjadi kontroversi dan tentu saja berbau politis karena di saat banyak orang mengusahakan pengembalian harta negara akibat kejahatan Soeharto dan kroni-kroninya, pada saat yang sama keluar surat yang menghentikan pencarian dan pengusutannya.

Upaya ‘pembebasan’ terbaru dilakukan secara terang-terangan oleh Partai Golkar. Partai berlambang beringin tersebut yang note bene merupakan partai buatan Pak Harto dan menjadi lokomotif kekuasaannya di masa orde baru, mengusulkan agar pemerintah menghentikan tuntutan perdata terhadap Pak Harto. Alasan yang diberikan tidak jauh-jauh dari menghormati jasa dan rasa peri-kemanusiaan terhadap seseorang yang sedang sakit.

Di lain pihak, mereka yang terus menuntut diteruskannya perkara Pak Harto berependapat bahwa Soeharto dan kroni-kroninya bertanggung jawab akan derita yang sampai saat ini dirasakan oleh masyarakat kecil. Betapa banyak masyarakat yang ketika sakit, tidak seorang dokterpun yang mengobati karena mereka tidak punya biaya dan alasan keterbatasan lainnya. Demikian pula, ketika mereka sakit, mereka tak dapat berharap dijenguk tetangga atau kerabat mereka apalagi berharap dijenguk pejabat. Sangat kontras dengan kejadian yang dialami Pak Harto yang boleh jadi merupakan penyebab derita mereka.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut yang menguras banyak waktu, tenaga dan pikiran bangsa ini, kasus mantan presiden Soeharto haruslah segera dituntaskan. Karena berlarut-larutnya perkara ini hanya akan memperkeruh suasana dan membuat posisi Pak Harto semakin tidak menentu. Pengusutan kasus tersebut harus terus dilakukan untuk menunjukkan rasa keadilan yang selama ini dijanji-janjikan. Rasa iba dan rasa kemanusiaan lainnya janganlah dicampuradukkan dengan masalah hukum, karena akan mengakibatkan proses hukum yang sedang dan akan berjalan menjadi tercemar oleh perasaan subyektif tersebut.

Pengusutan dan penyelesaian perkara ini menjadi sangat penting karena akan menunjukkan keseriusan pemerintah untuk mengemban salah satu amanah reformasi, yaitu memberantas korupsi. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa salah satu lingkaran yang mesti dibersihkan untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah lingkaran cendana. Penulis berkeyakinan bahwa penyelesaian kasus ini berdampak besar terhadap penyelesaian kasus-kasus korupsi lain yang dilakukan pejabat dan mantan pejabat lainnya. Para mantan pejabat yang berlindung di rumah sakit sebagai alasan untuk melepaskan diri dari jerat hukum akan mendapat pelajaran yang sangat berharga manakala kasus Pak Harto ini dituntaskan dengan baik. Sehingga penyelesaian kasus ini hingga tuntas sangat strategis dan krusial peranannya.

Selain itu, pihak-pihak yang tidak mengingikan terusutnya kasus ini hingga tuntas, jangan pula memperkeruh suasana dengan mendramatisir keadaan. Mengusut dan mengadili Pak Harto tidak perlu menyeret beliau secara paksa ke meja hijau. Pengadilan secara in absentia dapat dilakukan sehingga tidak ada pelanggaran rasa perikemanusiaan melalui pemaksaan dan yang terpenting menyelesaikan perkara yang selama ini telah berlarut-larut. Namun, wacana pengadilan secara in absentia ini memerlukan keseriusan dan kerjasama dari banyak pihak. Karena seperti diketahui, wacana ini sebenarnya sudah lama mengemuka namun belum pernah sukses diterapkan. Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya ketidakseriusan dalam pelaksanaannya.

Penulis berpendapat bahwa masyarakat luas sudah mulai jenuh dan bosan dengan polemik yang terjadi seputar kasus mantan presiden Soeharto ini. Sehingga sudah banyak yang merelakan dan ikhlas terhadap kasus ini dengan kata lain memaafkan Pak Harto. Sehingga yang diperlukan saat ini sangat sederhana sekali, yaitu mengungkap kejahatan Pak Harto dan menyatakan beliau bersalah. Jika setelah proses ini selesai, maka presiden berhak memberikan ampunan dan pemberian maaf.

Kasus seperti ini bukan pertama kali terjadi, banyak negara telah mengalami pengusutan kembali kejahatan penguasa masa lalu mereka. Jika mereka berhasil melakukannya, mengapa kita tidak? Apakah kita sudah benar-benar serius menyongsong Indonesia yang bebas korupsi? Atukah itu hanya menjadi angan-angan yang bergelayut di taman mimpi dan tidak membumi di tanah rakyat? Saatnya kita menjawab dan membuktikan bahwa bangsa ini menghargai jasa-jasa pemimpin masa lalu tapi lebih dari itu lebih menghargai masa depannya.

Posted by: Safri Saipulloh | April 11, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.