Posted by: Safri Saipulloh | January 28, 2009

Benang Kusut Dunia Pendidikan

Salah satu tujuan negara yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Para founding father bangsa ini telah memahami betul urgensi dari pendidikan terhadap kemajuan suatu bangsa, oleh karena itu pencerdasan kehidupan bangsa merupakan suatu keniscayaan.

Ironisnya, sektor pendidikan yang merupakan sarana untuk mencerdaskan bangsa, mengalami keterpurukan yang sangat dalam. Sektor pendidikan ini terperosok ke dalam lembah ketertinggalan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Bahkan untuk bersaing secara regional saja dengan negara Asia Tenggara lainnya, mutu pendidikan Indonesia sudah tidak pantas dibanggakan.

Masalah dunia pendidikan di negeri ini telah menjadi masalah pelik yang seolah tidak pernah berakhir. Berbagai masalah yang menggerogoti sektor vital ini terus menerus bertambah. Mulai dari sarana sekolah, masalah siswa, guru, manajemen sekolah yang buruk, dan penanganan pemerintah yang setengah-setengah.

Ditinjau dari bangunan sekolah yang ada, semakin hari semakin banyak yang rusak. Pada berbagai berita di media massa saban hari kita melihat semakin banyaknya gedung sekolah yang tidak layak pakai. Kerusakan ini ada yang diakibatkan oleh bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa dan lainnya. Selain itu, ada juga yang rusak karena termakan usia. Malangnya, kerusakan yang sering terjadi pada gedung sekolah tidak diimbangi dengan investasi di bidang tersebut oleh pemerintah, baik dengan memperbaiki gedung yang rusak maupun pembangunan gedung sekolah yang baru. Hal ini mengakibatkan jumlah gedung sekolah yang layak pakai dari hari ke hari semakin sedikit. Lantas kalau tidak ada ruangan atau gedung sekolah yang memadai, bagaimana siswa akan belajar dengan fokus?

Pembahasan mengenai gedung sekolah saja sudah membuat kita miris akan masa depan pendidikan bangsa ini, padahal sarana pendidikan tentu saja bukan hanya gedung. Sarana pendidikan yang lain yang sebenarnya tidak kalah pentingnya seperti buku, alat peraga, dan laboratorium seolah menjadi barang mahal bagi sebagian besar sekolah yang kita miliki. Pemenuhan sarana-sarana di atas masih terbatas di kota-kota besar atau di sekolah-sekolah yang mahal, sementara sebagian besar siswa Indonesia tinggal di daerah yang berarti tidak menikmati saran tersebut secara optimal.

Sebenarnya masalah sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar dalam dunia pendidikan formal ini dapat dituntaskan dengan baik apabila manajemen sekolah mengoptimalkan fungsi manajerialnya di sekolah. Sayangnya, sebagian besar manejemen sekolah yang ada kinerjanya masih jauh dari harapan. Hal ini diperparah pula dengan campur tangan pemerintah yang terkesan setengah-setengah dalam dunia pendidikan kita. Banyak kebijakan pemerintah yang menyangkut pendidikan yang justru menambah kisruhnya masalah yang ada. Meskipun telah ada usaha dari pemerintah dalam menangani berbagai persoalan yang melanda dunia pendidikan, akan tetapi usaha tersebut seperti dilakukan setengah hati.

Dunia pendidikan kita menjadi lahan empuk untuk dikomersialisasi pemerintah. Sehingga esensi dari pendidikan yaitu untuk mencerdaskan luput di tengah euforia kejar mengejar proyek. Cara pemerintah kita mengelola pendidikan tidak jauh berbeda dengan seorang supir metromini. Yaitu dengan memuat penumpang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat, memacu bis secepat mungkin untuk bisa sampai secepatnya di tujuan, begitu seterusnya. Demikian pula dengan pemerintah (dalam hal ini Depdiknas), sebanyak mungkin mengelola proyek, menyelesaikan secepat mungkin untuk kemudian mengejar proyek baru.

Masalah lain adalah masalah guru. Permasalahan guru ini juga tidak kalah menarik dengan permasalahan sebelumnya. Dimulai dari jumlah guru yang tidak memadai, gaji yang tidak pernah beres, sampai pada pengangkatan guru honorer menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Berbagai masalah yang dihadapi oleh mereka yang berprofesi amat mulia ini tidak jarang mengacaukan tujuan mulia yang mereka emban. Persoalan-persoalan yang hampir setiap hari muncul tersebut, misalnya saja gaji rendah sehingga tidak mencukupi standar hidup mereka, memaksa mereka untuk mengais rejeki dengan cara yang lain.

Hal tersebut tidak jarang membuat para pengajar tersebut berfikir pragmatis, yaitu sekedar memberikan tugas kepada siswa tanpa memperhatikan pemahaman siswa akan pelajaran yang sedang berlangsung. Pragmatisme seperti ini berujung pada bergesernya standar penilaian terhadap siswa yaitu tingkat kemampuan mengerjakan soal.

Selain itu pula, ditinjau dari sudut pandang siswa, dunia sekolah menjadi penjara menakutkan. Tidak ada lagi mutiara-mutiara pendidikan yang menarik minat para siswa, yang ada adalah tugas yang banyak sehingga tidak cukup waktu mengerjakannya. Sekolah menjadi tempat yang menjemukan sehingga para siswa mencari tempat lain yang menjadi pelampiasan banyaknya tugas yang diberikan para guru mereka di sekolah. Tempat-tempat seperti pusat perbalanjaan, pusat permainan dan lainnya menjadi tempat yang mereka sukai ketimbang sekolah yang penuh dengan tekanan.

Rasa kasihan sepatutunya diberikan pada generasi muda bangsa ini, yang kehilangan nikmatnya belajar karena beban moral berupa tugas dan pe-er yang banyaknya sampai membuat orang tua mereka pusing. Pergeseran paradigma pendidikan ini berakibat pada menurunnya citra mulia sekolah yang pada akhirnya membunuh kreativitas dan rasa ingin tahu peserta didik.

Tanggung jawab ini pertama kali harus dikembalikan kepada pemerintah sebagai penyelanggara negara yang bertugas mewujudkan tujuan negara ini sebagaimana diungkapkan di awal tulisan ini. Jangan lagi menganggap dunia pendidikan sebagai sapi perah untuk dijadikan mesin ekonomi, akan tetapi esensi dari pencerdasan dan pendidikan tersebut mestilah diutamakan. Selain itu, pihak manajeman sekolah juga jangan memanfaatkan keadaan untuk mengeruk keuntungan dari dunia pendidikan yang bertujuan mulia tersebut.

Dengan sinergi postitif dari ke dua aspek tersebut, maka permasalahan sarana prasarana, guru, dan siswa tentunya lebih mudah diselesaikan. Sehingga terbentuklah iklim dunia pendidikan yang bersahabat bagi siswa, sekolah yang menarik minat dan rasa ingin tahu dengan mutiara-mutiara ilmu yang ditawarkannya, dan suasana pendidikan yang menyenangkan dengan peran serta pendidik yang berjiwa mulia. Dengan demikian, dunia pendidikan Indonesia bisa menatap dunia dengan kepala tegak dan dan dapat dibanggakan di tengah-tengah pendidikan negara lain di dunia.

Semoga!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: