Posted by: Safri Saipulloh | January 28, 2009

Mengejar Soeharto

Tulisan ini dibuat pada saat Soeharto sakit parah

Dikutip dari setiakarya.files.wordpress.com

Foto dikutip dari setiakarya.files.wordpress.com

Akhir-akhir ini, pembicaraan mengenai mantan Presiden Soeharto kembali hangat. Hal ini tidak terlepas dari kondisi kesehatan mantan penguasa orde baru tersebut. Semenjak dilaporkan bahwa kondisi Pak Harto semakin kritis beberapa hari yang lalu, publik seolah kembali dibangunkan dari tidur untuk mengusut kembali kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan penguasa terlama di Indonesia tersebut. Berbagai tuntutan yang dialamatkan kepada Pak Harto yang seperti telah dilupakan baik sengaja maupun tidak, kembali dibuka. Hal itu berarti dosa-dosa dan catatan kelam masa lalu Pak Harto kembali diungkap.

Ironis memang, di saat mantan orang nomor satu itu tergolek lemah di rumah sakit, di saat itu pula banyak orang mengejar beliau. Banyak wacana telah bergulir tentang bagaimana seharusnya menyudahi perkara panjang tersebut. Terjadi pro dan kontra yang cukup sengit antara pihak yang memberatkan Pak Harto dan pihak yang membelanya. Terjadinya pro dan kontra pengusutan kasus kejahatan mantan penguasa terlama itu memang sangat wajar terjadi.

Mereka yang membela dan bersimpati kepada Pak Harto merujuk pada alasan kontribusi beliau yang memang sangat besar teradap kemajuan bangsa. Sehingga wajar rasanya, dipenghujung hidupnya, Pak Harto beserta keluarganya diberikan kedamaian dan kenyamanan dalam menghadapi masa-masa sakit. Banyak upaya telah mereka lakukan untuk memberikan kenyamanan dan kedamaian kepada mantan penguasa tersebut.

Salah satu yang belum lepas dari ingatan kita, barangkali, adalah pengeluaran Surat Penghentian Pengusutan Perkara (SPPP) yang dikeluarkan oleh mantan Jaksa Agung Abdurrahman Saleh dengan alasan bahwa Pak Harto telah mengalami sakit permanen. Pengeluaran surat ini menjadi kontroversi dan tentu saja berbau politis karena di saat banyak orang mengusahakan pengembalian harta negara akibat kejahatan Soeharto dan kroni-kroninya, pada saat yang sama keluar surat yang menghentikan pencarian dan pengusutannya.

Upaya ‘pembebasan’ terbaru dilakukan secara terang-terangan oleh Partai Golkar. Partai berlambang beringin tersebut yang note bene merupakan partai buatan Pak Harto dan menjadi lokomotif kekuasaannya di masa orde baru, mengusulkan agar pemerintah menghentikan tuntutan perdata terhadap Pak Harto. Alasan yang diberikan tidak jauh-jauh dari menghormati jasa dan rasa peri-kemanusiaan terhadap seseorang yang sedang sakit.

Di lain pihak, mereka yang terus menuntut diteruskannya perkara Pak Harto berependapat bahwa Soeharto dan kroni-kroninya bertanggung jawab akan derita yang sampai saat ini dirasakan oleh masyarakat kecil. Betapa banyak masyarakat yang ketika sakit, tidak seorang dokterpun yang mengobati karena mereka tidak punya biaya dan alasan keterbatasan lainnya. Demikian pula, ketika mereka sakit, mereka tak dapat berharap dijenguk tetangga atau kerabat mereka apalagi berharap dijenguk pejabat. Sangat kontras dengan kejadian yang dialami Pak Harto yang boleh jadi merupakan penyebab derita mereka.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut yang menguras banyak waktu, tenaga dan pikiran bangsa ini, kasus mantan presiden Soeharto haruslah segera dituntaskan. Karena berlarut-larutnya perkara ini hanya akan memperkeruh suasana dan membuat posisi Pak Harto semakin tidak menentu. Pengusutan kasus tersebut harus terus dilakukan untuk menunjukkan rasa keadilan yang selama ini dijanji-janjikan. Rasa iba dan rasa kemanusiaan lainnya janganlah dicampuradukkan dengan masalah hukum, karena akan mengakibatkan proses hukum yang sedang dan akan berjalan menjadi tercemar oleh perasaan subyektif tersebut.

Pengusutan dan penyelesaian perkara ini menjadi sangat penting karena akan menunjukkan keseriusan pemerintah untuk mengemban salah satu amanah reformasi, yaitu memberantas korupsi. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa salah satu lingkaran yang mesti dibersihkan untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah lingkaran cendana. Penulis berkeyakinan bahwa penyelesaian kasus ini berdampak besar terhadap penyelesaian kasus-kasus korupsi lain yang dilakukan pejabat dan mantan pejabat lainnya. Para mantan pejabat yang berlindung di rumah sakit sebagai alasan untuk melepaskan diri dari jerat hukum akan mendapat pelajaran yang sangat berharga manakala kasus Pak Harto ini dituntaskan dengan baik. Sehingga penyelesaian kasus ini hingga tuntas sangat strategis dan krusial peranannya.

Selain itu, pihak-pihak yang tidak mengingikan terusutnya kasus ini hingga tuntas, jangan pula memperkeruh suasana dengan mendramatisir keadaan. Mengusut dan mengadili Pak Harto tidak perlu menyeret beliau secara paksa ke meja hijau. Pengadilan secara in absentia dapat dilakukan sehingga tidak ada pelanggaran rasa perikemanusiaan melalui pemaksaan dan yang terpenting menyelesaikan perkara yang selama ini telah berlarut-larut. Namun, wacana pengadilan secara in absentia ini memerlukan keseriusan dan kerjasama dari banyak pihak. Karena seperti diketahui, wacana ini sebenarnya sudah lama mengemuka namun belum pernah sukses diterapkan. Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya ketidakseriusan dalam pelaksanaannya.

Penulis berpendapat bahwa masyarakat luas sudah mulai jenuh dan bosan dengan polemik yang terjadi seputar kasus mantan presiden Soeharto ini. Sehingga sudah banyak yang merelakan dan ikhlas terhadap kasus ini dengan kata lain memaafkan Pak Harto. Sehingga yang diperlukan saat ini sangat sederhana sekali, yaitu mengungkap kejahatan Pak Harto dan menyatakan beliau bersalah. Jika setelah proses ini selesai, maka presiden berhak memberikan ampunan dan pemberian maaf.

Kasus seperti ini bukan pertama kali terjadi, banyak negara telah mengalami pengusutan kembali kejahatan penguasa masa lalu mereka. Jika mereka berhasil melakukannya, mengapa kita tidak? Apakah kita sudah benar-benar serius menyongsong Indonesia yang bebas korupsi? Atukah itu hanya menjadi angan-angan yang bergelayut di taman mimpi dan tidak membumi di tanah rakyat? Saatnya kita menjawab dan membuktikan bahwa bangsa ini menghargai jasa-jasa pemimpin masa lalu tapi lebih dari itu lebih menghargai masa depannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: