Posted by: Safri Saipulloh | February 2, 2009

Potret Khutbah Jum’at

Sewaktu saya kecil dulu, tepatnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, hari jum’at adalah hari yang paling saya suka selain hari libur. Alasannya, selain pada hari tersebut waktu pulang sekolah lebih cepat sehingga saya bisa sampai di rumah lebih awal, juga dikarenakan adanya kegiatan shalat jum’at. Shalat jum’at bagi saya waktu itu adalah shalat yang istimewa karena hanya dilaksanakan sekali dalam sepekan, selain itu dalam shalat jum’at ada ritual yang membedakannya dengan shalat biasa, yaitu khutbah jum’at. Meskipun saat itu saya belum begitu mengerti dan belum terlalu paham apa yang disampaikan khatib melalui khutbahnya tapi saya sangat menikmati setiap khutbah jum’at yang saya ikuti. Buktinya, saya bisa menghafal dengan baik sebagian besar kalimat-kalimat penutup khutbah kedua yang biasa dibacakan oleh khatib, meskipun kalimat tersebut dalam bahasa arab yang saya tidak mengerti.
Begitulah yang saya rasakan pada saat kecil, di desa yang jauh dari gemerlap perkotaan, dimana masyarakat masih patuh dan taat akan norma agama setidaknya menurut kaca mata masa kecil saya yang masih polos. Saat ini, tepatnya setelah sepuluh tahun berlalu, kegiatan shalat jum’at yang merupakan kegiatan yang saya tunggu dan nantikan, tidak lagi semenarik dulu. Khutbah jum’at hampir di semua tempat yang saya ikuti, jarang yang menarik malah tidak sedikit yang membosankan.
Kebanyakan jama’ah shalat jum’at yang hadir menggunakan waktu khutbah ini untuk tidur dan beristirahat, sehingga sangat sedikit yang mengikuti khutbah dengan baik. Dengan demikian, orang yang mendapat hikmah dari shalat jum’at ini akan semakin sedikit pula. Padahal, shalat jum’at adalah momentum yang sangat baik untuk meluruskan kembali keimanan jama’ah yang hadir. Hal ini dikarenakan, selain jumlah jama’ah yang hadir sangat banyak karena anggapan umum bahwa shalat jum’at memiliki tingkat kewajiban yang lebih tinggi dari shalat lain, ajakan menuju takwa kepada Allah SWT juga merupakan rukun yang mesti ada dalam sebuah khutbah.
Kurang menariknya khutbah jum’at yang berujung pada rendahnya antusiasme jama’ah untuk mengikutinya dengan baik, menurut pandangan saya, disebabkan oleh kekurangan pada dua belah pihak yang berinteraksi pada saat khutbah, yaitu khatib dan jama’ah. Kekurangan khatib dalam hal ini, menyangkut kapabilitas dalam berbagai hal yang menyangkut dunia perkhutbahan, sedangkan pemahaman akan pentingnya khutbah jum’at merupakan kekurangan yang dimiliki oleh banyak jama’ah shalat jum’at.
Khatib adalah mereka yang berperan menyampaikan khutbah pada saat shalat jum’at. Sangat memprihatinkan bahkan fatal bagi saya, ketika dalam beberapa khutbah yang saya ikuti, ada khatib yang tidak memenuhi rukun khutbah dalam menyampaikan khutbahnya. Dengan demikian, khutbah yang disampaikan tidaklah sahih karena kekurangan rukun. Hal ini jelas menyangkut kualitas ibadah jum’at dari seluruh jama’ah yang mengikuti shalat jum’at. Dengan demikian, penting rasanya untuk mempertanyakan kapabilitas ataupun kompetensi dari khatib.
Selain itu, tema yang diangkat oleh khatib terkadang kurang relevan dengan kondisi kontekstual jama’ah, sehingga tidak menarik bagi para jama’ah yang hadir. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kemampuan memilih tema khutbah ini akan menyangkut seberapa besar atensi yang akan diberikan oleh jama’ah. Dengan alasan ini, saya kurang sependapat dengan penggunaan buku khutbah yang banyak beredar karena perbedaan tempat dan waktu pelaksanaan khutbah, menyebabkan buku khutbah tersebut kurang sesuai secara kontekstual.
Kemudian, penyampaian khutbah tidak jarang memakan waktu yang lama sehingga membosankan bagi jama’ah. Menurut riwayat, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah dengan singkat bahkan lebih singkat dari waktu shalat jum’at. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita, khususnya para khatib bahwa penyampaian khutbah tidak perlu panjang lebar apalagi bertele-tele karena khutbah pada hakikatya berbeda dengan ceramah. Khutbah seharusnya disampaikan penuh semangat bukan mendayu-dayu yang menambah ngantuk para jama’ah. Dalam salah satu riwayat pula, dikatakan bahwa Rasulullah SAW ketika khutbah seperti orang yang marah, matanya merah, suaranya tegas yang menunjukkan betapa penting isi dari khutbah yang disampaikan.
Terlepas dari masih banyaknya kekurangan pada sebagian khatib yang kita miliki, kita sebagai jama’ah juga tidak tanpa cela. Keberlangsungan khutbah dengan baik yang memungkinkan tersampaikannya isi khutbah juga membutuhkan peran jama’ah. Pemahaman jama’ah yang kurang akan urgensi khutbah berakibat pada rendahnya antusiasme mengikuti khutbah dengan baik. Banyak diantara jama’ah yang menganggap khutbah hanya pelengkap dari shalat jum’at sehingga tidak wajib hadir tepat waktu, tidak wajib mengikuti dengan baik, dan tidak wajib lainnya. Padahal khutbah merupakan satu kesatuan yang utuh dengan shalat jum’at, sehingga tidak bisa dipandang terpisah. Kewajiban mengikuti khutbah sama wajibnya dengan mengikuti shalatnya.
Mengingat pentingnya peranan khutbah dalam kehidupan berislam kita, serta masih banyaknya kekurangan dalam pelaksanaan yang berakibat pada tidak signifikannya pengaruh khutbah di masyarakat kita saat ini, maka perlu rasanya melakukan revitalisasi peran khutbah. Tulisan ini semoga bisa menggugah kita menuju revitalisasi tersebut demi Islam yang lebih baik di masa datang. Amin.


Responses

  1. Lumayan bagus
    lebih didalamkan lagi pembahasan tentang khotbah shalat jum’at

    • Terima kasih atas masukannya mbak..

      Semoga selanjutnya lebih baik

  2. Banyak khatib yang ketika khutbah jumat hanya membaca buku kumpulan khutbah jumat, tanpa memilah dulu materi yang disampaikan. Membosankan. Akhirnya, jamaah pada tidur. Shalat jumat hanya dianggap sebagai ritual mingguan, baik oleh khatib maupun jamaah. mestinya, jumatan dijadikan media untuk mencharge rasa keimanan agar seminggu ke depan semakin meningkat iman itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: