Posted by: Safri Saipulloh | February 9, 2009

500 di 63

Perkara duit memang sering membuat orang hilang akal. Cerita ini bisa menjadi gambaran betapa duit 500 perak dapat memicu perkelahian.

Pukulan dilayangkan oleh bapak separuh baya ke pipi kernet Kopaja 63 pada selasa pagi ketika jarum jam lebih 3 menit dari pukul 7 WIB. Pukulan tersebut merupakan kelanjutan setelah sebelumnya si bapak mencubit- lebih tepatnya menjewer karena mencubit terkesan manja dan penuh kasih sayang- muka kasar kernet berbaju hijau itu. Baju hijau yang merupakan seragam Kopaja tersebut baru hari ini kulihat dipakai sang kernet bertubuh mungil. Aku memang sudah hapal muka kernet ini karena setiap hari aku menggunakan jasa angkutan ini dari kost menuju tempat kerjaku, meskipun tidak setiap hari berangkat dengan bis yang sama.

Sekilas muka kernet ini mirip dengan salah satu pemain sepak bola asal klub Valencia, David Silva. Perawakannya yang kurus dan mungil juga semakin membuatnya mirip dengan pemain sayap Spanyol tersebut. Di sisi lain, si Bapak yang melakukan pemukulan terlihat seperti orang baik2 dengan tinggi yang hampir sama dengan sang kernet. Kepalanya bulat dan kecil dilengkapi kumis tipis yang sudah sedikit beruban.

Pemukulan itu merupakan buntut dari kekurangan ongkos si Bapak setengah tua. Tarif yang seharusnya sebesar Rp.2500 hanya dibayar dengan dua lembar uang seribuan oleh si Bapak. Tak terima ongkos kurang, si Kernet setengah berteriak menyuruh turun si Bapak. Merasa tidak dihormati, si Bapak yang mengaku sudah malang melintang di Kopaja dan Metromini terpancing emosinya. Diawali dengan diskusi singkat, yang lebih mirip seperti pertengkaran kecil, si Bapak yang sudah naik pitam mengawali kontak fisik dengan menjewer. Tak puas sampai di situ, si Bapak yang berdiri di pintu belakang mendorong si Kernet sampai hampir jatuh dari bis. Dengan enteng si Bapak menyumpahi biar jatuh sekalian.

Para penumpang yang mulai terusik dengan pertengkaran tersebut, mulai mengeluarkan suara-suara gaduh. Sang sopir pun akhirnya angkat bicara dengan memanggil kernetnya. Sang Kernet yang merasa sudah dilecehkan si Bapak setengah tua, menghampiri sopir dan mengadukan kejadian yang menimpanya. Tak terima kernetnya dilecehkan, sopir berbadan tinggi besar turun dari kemudi dan menuju pintu belakang. Bis pun berhenti di tengah kemacetan lalu lintas ibukota.

Si Bapak setengah tua terlihat tidak gentar meskipun sopir telah menghampiri. Pertarungan akan berjalan tidak seimbang. Satu lawan satu saja, belum tentu si Bapak bisa membereskan apalagi harus berhadapan dengan dua orang sekaligus. Si sopir yang datang dengan emosi tertahan bertanya,

Sopir: “Ada apa sih Pak?”
Bapak: “Saya kurang gopek, tapi saya udah minta maaf. Emang berapa sekarang ongkos, saya juga udah lama di Kopaja. Dia (sambil menunjuk ke kernet) baru juga, udah begitu.”

Si Bapak menceritakan duduk perkara dengan bibir bergetar akibat menahan amarahnya. Si Kernet yang dengan kedatangan bosnya merasa mendapat dukungan, bersuara dengan sangat keras.
Kernet: “Dengerin gue dulu”

Sambil menampar body bis sang Kernet menumpahkan kemurkaannya. Masih dengan emosi yang meluap dia melanjutkan.

Kernet: “Gue ngormatin lo karna lo orang tua, tapi jangan pake nonjok dong”.

Si kernet pun langsung menyerobot si Bapak dengan pukulan beruntun ke arah wajah. Meski tak ada yang mengenai secara telak karena langsung dihalangi oleh Sopir, si Bapak mulai tertekan. Aku yang sedari tadi terjepit di tengah kerumunan orang yang berdiri karena bis yang penuh, tak ingin melihat kejadian ini semakin panjang. Akupun keluar dan mulai ambil bagian dalam pertikaian ini.

Si Bapak yang belum selesai dengan kemarahannya, masih berteriak-teriak menantang si Kernet. Meski telah didamaikan oleh sopir si Kernet semakin terpancing. Akupun membawa Kernet menjauhi si Bapak dan berusaha menenangkannya. Di lain pihak si Bapak berusaha ditenangkan Sopir. Duit ongkos sebesar dua ribu rupiah pun telah dikembalikan kepada si Bapak dan sopir menyuruh si Bapak untuk naik bis yang lain saja.

Keadaan sedikit tenang. Sopir pun kembali ke belakang kemudi, siap berangkat. Tapi lagi-lagi, si Bapak memprovokasi si Kernet, sepertinya si Bapak masih belum selesai dengan amarahnya. Melihat kondisi ini, aku kembali mendekat ke si Bapak dan menenangkannya. Malu pak, banyak orang. Kira-kira itulah pesan yang kusampaikan kepada si Bapak yang sepertinya sudah harus merelakan nasib ditinggalkan bis. Dan kamipun berangkat kembali.

Sayonara Bapak setengah tua….

Untuk urusan-urusan seperti beli-membeli, jatuh, hilang dan sebagainya, uang 500 perak sering kali kita ikhlaskan. Tapi ketika uang dengan jumlah sama harus kita berikan kepada kernet, perasaan begitu berat dan rela “bertarung” demi itu. Hal yang sama pun dilakukan kernet terhadap kita. Ironis sekali..

Apapun itu, 500 di 63 telah memberikan kenangan perjuangan demi sekeping uang receh yang sering diabaikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: