Posted by: Safri Saipulloh | March 2, 2009

Ketika mereka tersinggung….

Di Bis Primajasa, sore telah berlalu dan malam menjelang, aku bersama seorang teman sedang sedang dalam perjalanan menuju Cilegon dalam sebuah misi “mencari pekerjaan yang layak”. Perjalanan menuju Cilegon dari Jakarta adalah perjalanan yang cukup panjang memakan waktu tiga sampai lima jam, tergantung kepadatan jalanan. Waktu itu, kami sedang asyik berbincang tentang “betapa indahnya masa depan kalau kita kerja di tempat yang sama”, ketika seorang pengamen masuk ke dalam bis. Tanpa berniat mengacuhkan apalagi merendahkan, asyiknya mengobrol membuat aku dan temanku kurang memperhatikan “pertunjukan” seorang pengamen di dalam bis. Waktu itu, dia menyanyikan salah satu lagu Kerispatih yang sedang hits. Saat itu aku tidak merasa telah membuat kesalahan.

Tiba saat sang pengamen mengedarkan plastik bekas bungkus permen untuk memungut sumbangan dari para penumpang. Dia sedang memungut hasil jerih payahnya. Sampai di tempat dimana aku dan temanku duduk, Sang Pengamen menyodorkan plastik itu dan karena alasana yang aku lupa, kami tidak “mencelupkan” sesuatupun ke dalamnya. Dengan rasa kecewa yang tertahan, Sang Pengamen menggerutu dan pergi. Aku menatap temanku mengharap jawaban perilaku aneh dan tidak menyenangkan itu. Mungkin karena kita tidak mendengarkan dan tidak memberikan apa-apa, demikian kata temanku. Baiklah, satu pelajaran penting telah kupetik.

Waktu berlalu dan tak ada kabar tentang “pekerjaan yang layak” itu. Tidak padaku, tidak juga pada temanku. Bersabarlah, nasib sedang tidak baik.

Tiga hari yang lalu, dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, di Bis Metromini, aku sedang berharap bisa cepat sampai di rumah. Besok adalah akhir pekan dan aku butuh istirahat. Ketika itu, dua orang berbaju hitam menaiki bis dari pintu belakang. Awalnya mereka duduk saja hingga sekitar 20 menitan. Setelah itu, mereka berdiri dan memulai atraksi mengamen sambil mengintimidasi. Mereka adalah preman jalanan dalam “bungkusan” pengamen. Atau pengamen dalam “bungkusan” preman jalanan. Intinya mereka mengamen dan mengancam dalam saat yang bersamaan.

Dimulai dengan kata-kata bijak yang sangat menghakimi seperti “jangan takut miskin, duit seribu dua ribu tak akan membuat anda miskin”, “hidup ini harus berbagi”, “jangan sombong karena kekayaan anda” dan kalimat-kalimat semacamnya yang penuh dengan teror dan penuduhan. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. “Lagu-lagu sosial” dalam istilah mereka pun mulai dikumandangkan. “Lagu sosial” itu adalah gabungan antara bentakan dan hinaan diselingi nada-nada ejekan. Mereka benar-benar membuatku dan mungkin seisi bis tersinggung dengan tingkah mereka.

Saat-saat seperti ini aku berharap menjadi seorang superhero sekelas Batman atau Spiderman dan langsung memberi mereka pelajaran. Sayang, aku bukan superhero.

Dua bangku di depanku, duduk seorang wanita berbaju biru dan syal coklat. Tak dapat kulihat wajahnya. Wanita itu sedang mendapatkan celotehan dari pengamen itu. Firasatku buruk. Mungkin si wanita telah mengucapkan atau berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan si pengamen. Benar saja, pengamen itu terus saja mengucapkan kata-kata kasar dan tak senonoh sambil melewati wanita itu. Selesai memungut sumbangan penumpang, mereka duduk di bangku paling belakang, tepat di belakangku. Dan kata-kata makian itu terus berlanjut. Sumpah serapah tak terbendung. Terkadang pelan, terkadang sengaja diucapkan dengan keras. Sungguh tindakan terorisme. Kasihan wanita itu.

Seisi bis hanya diam, tidak mau cari masalah dan menambah keruh suasana. Begitupun sopir dan kernet yang jelas-jelas mendengar segala kutukan para preman itu. Akupun tak berkutik. I’m not a superhero. Aku sedih tak bisa membantu, hanya berdoa agar si wanita menebalkan telinga dan tak mengambil hati ucapan-ucapan tak beradab itu.

Para pengamen itu tak jua turun. Enaknya mereka, naik bis tak bayar duduk pula plus hak khusus untuk berkhotbah dan memaki-maki. Sambil pulang kandang, sambil cari uang. Mereka tetap di bis, sampai terminal. Dan sepanjang itu si wanita dan seisi bis mendapat “siraman rohani”. Saat semua orang mulai turun, para pengamen itu mulai mengincar si wanita. Keluar dari pintu berbeda, wanita itu keluar dari pintu depan dan pengamen dari pintu belakang, para pengamen mulai cari mangsa. Tak tahu apa bakal terjadi.

Aku yang dalam perjalanan pulang dalam sebuah misi “pulang cepat dan tidur nyenyak” tak kuasa mengikuti kelanjutan ceritanya. Lagian juga disini banyak orang, kataku dalam hati. Semoga kau selamat wanita berbaju biru dengan syal coklat. Doaku bersamamu….

Sepertinya, pelajaran yang kupetik di awal cerita ini, juga telah dipetik oleh wanita itu.

“Para pengamen seringkali dengan sengaja menyinggung perasaan penumpang bis dan angkutan lainnya, tapi jangan pernah berharap sebaliknya. Itu artinya cari masalah”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: